Miss Indonesia ?!? You’re so Beautiful, You Scare Me

Waktu hari Rabu lalu 6 Agustus 2008, saat g pergi ke RCTI untuk Meeting dengan Klien g. G lihat ada acara Interview di Pintu masuk RCTI. Dan keluarlah seorang wanita, yang menurut g adalah

    makhluk terindah yang pernah g lihat secara langsung menggunakan kedua mata ini sampai saat ini

Lalu g lihat dia menggunakan lambang Miss Indonesia 2008. G betul-betul terpana. Secara dia tinggi, tubuhnya proporsional, putih. Sesuatu yang diidam-idamkan setiap lelaki. Lalu muncul pikiran dalam benak g.

    Ini adalah Jenis Wanita, yang deminya Suami mau meninggalkan Istri dan Anak, seorang pencinta mau meninggalkan Pacar, seorang penguasa mau      menyerahkan Negaranya, dan seorang Patriot mau mengkhianati Negaranya.

Betul, dia sangat cantik. G akan memasukkan Fotonya kedalam sini, hanya saja fotonyaMiss Indonesia 2008 Sandra Anglina tidak dapat menggambarkan 1/10 dari kecantikannya, yang g lihat saat g melihatnya secara langsung. Maka muncullah pertanyaan dalam benak g, apa yang akan g lakukan bila g adalah seorang suami? Adalah seorang Pacar? Seorang Penguasa? Seorang Patriot? Yang tiba-tiba dipertemukan karena jodoh dengan orang ini?

Apa yang terjadi bila saat itu kami saling jatuh cinta? Apakah g akan meninggalkan semuanya?

Sehingga g jadi berpikir, mungkin sebaiknya g ga berhubungan dengan siapa-siapa sampai g ketemu dengan seseorang seperti Miss Indonesia. Apakah itu benar ?

    Sampai matipun kemungkinan cewe sekelas Miss Indonesia, ga mungkin mau ama g.

Jadi apa yang hendak g lakukan ? Mengurung diri ?

Katakanlah g adalah seorang Pacar. Lalu Wanita super cantik dan attraktif muncul dan mau ama g. Apakah bila g memutuskan untuk dengan dia, g berdosa ? Dan apakah merupakan salah g kl g tiba-tiba memiliki perasaan padanya ?

Apakah pembaca udah nonton film Jomblo ? Pada akhir filmnya, Agus Ringgo memutuskan untuk tetap dengan pacarnya sekarang dengan alasan

    Bila g milih lo karena lo lebih cantik, lebih baik. Tapi masa setiap kali ada yang lebih baik g harus dengan dia? Kapan berakhirnya?

Bagi g itu BODOH. Bukankah pacaran berarti penjajakan? G bisa mengerti kalau seorang suami memutuskan kekasih gelapnya, karena selingkuh bagi seseorang yang sudah menikah itu jelas-jelas salah. Tapi di film ini Agus Ringgo berantem melulu dengan pacarnya. Kenapa ga diputusin. Ya udah masalah film ga usah dipikirin. Intinya apakah hal ini fair? Coba pikirkan dua hal yang bakal terjadi kalau lo memutuskan untuk tetap ama Pacar lo tapi punya feeling dengan orang lain :

    1. Nyakitin diri lo sendiri karena dalam hati lo pengen dengan orang lain!
    2. Nyakitin pasangan lo (bila dia tahu), karena dia tahu dalam hati lo mau dengan orang lain!

Apakah lo dapat hidup dengan membohongi perasaan lo sendiri? G sendiri jadi bingung apakah g sebenarnya berusaha untuk mebenarkan selingkuh? Atau g sendiri mengatakan hal ini pada diri g, karena g takut akan Komitmen? Takut harus Komit atau membuat Janji yg g sendiri tidak tahu apakah mampu g tepati?

G harap cewe seperti Miss Indonesia, jika memang jodoh cepat datang. Karena hal terakhir yang g inginkan adalah berada di sebuah segitiga cinta yang memusingkan. Kecuali keduanya mau Poligami (Ok, that was a Joke 😀 )

   

Powered by Qumana

When Man Become Older

Apakah masalah ini hanya terjadi pada Kaum Adam? Atau para kaum Hawa juga merasakannya? Hal ini muncul di benak g setelah g berulang tahun minggu kemarin. Pernahkah ada yang pikirkan bahwa semakin tua kita menjadi, kita semakin membuat jarak dengan orang-orang yang kita cintai ?

Sebagai contoh, waktu g kecil kalau ketemu ayah maunya tu diajak main, digendong, dipeluk. Ya hal-hal yang kita lakukan sebagai anak-anak. Atau dengan kaka dan adik kita. Nah hal-hal seperti itu tentu akan hilang setelah kita semakin tua. Masa kita mau berharap setelah berumur 20an masih manja-manjaan dengan orang tua kita (kecuali kita anak mama 😛 ).

Cuman lama kelamaan, entah apa alasannya kita mulai merasa kita terlalu tua untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang yang kita cintai. Hal yang sama g rasain. Apakah anda ingat kapan terakhir kali memeluk ayah anda ?
Mungkin jawaban anda saat hari-hari penting saja, misalnya salah satu ada yang ulang tahun (itupun jarang kita tunjukkan), atau saat wisuda, atau saat si anak menikah. Tapi sekedar membari pelukan dan bilang, Yah makasih?

Iya kita memiliki kesulitan untuk menunjukkan rasa kasih sayang kita, karena takut dianggap lemah. Saat ulang tahun kemarin g berpikir kapan terakhir kali g tunjukkan pada ayah g, kl g sayang pada dia dan berterima kasih atas kehidupan g. G terus terang ga ingat kapan g melakukannya secara Spontan.

Saat g ulang tahun dan pulang, ayah g menyambut g dan ngasih salam. G bilang terima kasih, dan g jadiin itu kesempatan untuk ngasih pelukan. G merasa senang banget saat itu, seperti sebuah beban di pikiran g yang terangkat.

Saat Ibu atasan g meninggal (g sangat dekat dengan atasan g ini, g anggap dia sebagai salah satu mentor/guru g), dia berkata g menyesal ga pernah ucapin terima kasih kepadanya di saat-saat terkahir. Saat ayah temen g meninggal, dia sampai saat ini masih menyesal karena waktu ayahnya meninggal, dia sedang perang dingin dengan ayahnya.

Ini membuat g sadar, apa yang akan g lakukan jika salah satu dari orang tua g diambil oleh yang diatas sana ? G masih teringat saat kake g meninggal, g panggil dia Opa. Kadang g berpikir, Opa lagi ngapain ya dan membayangkan dia sedang duduk di rumahnya membaca Koran. Lalu g teringat bahwa dia telah meninggal. Dan g mengambil nafas panjang.

Apakah ini arti dari menjadi Dewasa? Memutuskan untuk hanya peduli dengan diri sendiri dan persetan dengan orang lain? Membuat teman-teman dan melupakan keluarga?

G harap sih bukan! Kayanya g mau pulang dan ngasih pelukan ke seluruh anggota kelurga g sekarang.

Bersyukur akan kehadiran Sinetron

Sudah saatnya kita bersyukur atas kehadiran Sinema Elektonik atau Sinetron itu. Banyak anak muda yang mengutuknya atau mengutuk sutradaranya, kl saya lebih mengutuk produsernya. Tetapi knp harus disukuri?

Pertama Sinetron melatih kesabaran. Semua orang yang sanggup menonton sinetron mestilah orang yang sabar, bukan hanya karena plotnya yang ditarik sepanjang-panjang sampai-sampai kl bisa kejadian si A ketemu ama si B di ulur sampai 10 episode. Yang si A dan si B hampir ketemu di rumah sakit atau mall atau apalah, tapi akhirnya ga jd krn yg satu keburu pergi atau mereka ga saling lihat dsb. Atau kl ada sebuah kejadian emosi wajah semua orang dlm ruangan harus di close up, sampai-sampai goresan make upnya yg tebalnya 5 cm harus terlihat jelas. Dan jangan sampai ada emosi yg tidak tertangkap, dari mulai bibir yg dijedusin sampai alis yg digerakkan. Dan terutama mata yg kalau bisa melotot sampai keluar.

Lalu sinetron mengajarkan kepada kita tentang pacaran. Mungkin kita bingung kapan saat yg tepat buat pacaran? Dan setelah menonton sinetron anak smp kita sadar kl dari kelas 4 sudah saatnya untuk pacaran. Ingat sinetron inikah rasanya ? Atau skrg sinetron yg ada putri dan gita gutawa, yg sepertinya udah cukup umur untuk nafsu pacaran (those young horny bitches). untungnya semua artis sinetron diberi pelatihan dasar KB dan alat kontrasepsi, yang menjelaskan knp jarang terdengar kabar pemain sinetron ingusan MBA. Atau mungkin krn yg cewe masih kecil dan belum menstruasi, kalau mereka berhubungan ga masalah? Hmm itu juga masuk akal. Question, ada yang anggap Agnes Monica dan Bunga Citra Lestari masih perawan ? Mereka sama perawannya dengan Madonna saat syuting video clip "LIKE a virgin", dengan "LIKE" sengaja di huruf tebal. Dengan foto-foto bunga yang beredar di internet, kita mudah mengasumsikan bahwa ia dapat disewa, dengan harga yang tepat tentu.

Sinetron membuat sadar bahwa kita masih harus banyak belajar. Coba nonton Sinetron dan kita sadar bahwa pembuat Sinetron itu Bodoh. Dan pemainnya ga becus. Sehingga kita menjadi semangat belajar. Coba lihat acara Gol (Tamara Blezinsky) atau Olivia (ini bener-bener copy-paste beneran), emang orangnya bisa main Bola ? Dulu g punya teman lihat Ari Wibowo main di Sinetron Laga, katanya :

Gile g dipenjara 10 tahun, terus g lihat Ari Wibowo berantem, kl g ketemu sekali hantem mampus tuh anak. G mau jadi pemain Sineton biar g tunjukkin gimana caranya berantem !

Gile temen g serem banget, wajar dia emang baru keluar penjara (ironisnya dia tahun itu dipenjara lagi karena kepemilikan senjata illegal).

Tapi, hati-hati. Bayangkan setelah lelah bekerja seharian. Kepala suntuk. Kita pulang ke rumah dan menyaksikan Sinetron yang ceitanya berulang-ulang. Satu-satunya hal yang kepikiran adalah minum Baygon.

Stress di Kantor + Stress Kehidupan + Stress Sinetron = Keinginan untuk Bunuh Diri yang tinggi

G ga benci semua acara Indonesia. Ada Film yang membuat g kagum, seperti Denias. Ceritanya bagus dan mengharukan, g acungin Jempol 5 (Yang satu pinjem punya teman hehehe). Eliana eliana dan Janji Joni membuat kita berpikir kalau Indonesia masih memiliki harapan untuk berkembang. AMIN.

Hidup perfileman Indonesia, dan semoga bisa berkembang ! Semoga juga g bisa jadi bagian darinya. AMIN