Julian, Pete dan Jengkol

Gue terkenal atas beberapa hal di Keluarga gue salah satunya adalah terbukanya gue atas kesukaan gue akan Pete dan Jengkol. Lucu memang dan lebih lucu lagi kalau ada saudara yang ajak datang ke rumahnya dengan iming-iming “Saya suguhkan Jengkol biar kamu datang” :P. Jadi pada kesempatan ini gue akan berikan cerita bagaimana bisa suka si Jengkol dan si Pete.

Dan gue ngiler beneran

Dan gue ngiler beneran

Gue tidak ingat persis kapan pertama kali bertemu atau menyicipi Pete tetapi masih jelas mengingat pengenalan pada Jengkol. Tapi namanya bukan Jengkol, di Keluarga gue kita menggunakan kata sandi untuk menandai Jengkol. Tujuannya simple, kalau bilang di depan orang “Makan Jengkol yuk!” sepertinya memalukan tetapi jika bilang “Yuk, cari makan Hati Rusa” terdengar jauh lebih keren. Dan ternyata bukan hanya keluarga saya saja yang begitu, seiring waktu gue mendengar digunakannya kata-kata Kancing Jaket, Jari Sapi, Kacang Jumbo, dll.

Nah, Alm. Opa saya tercinta dulu mengajak makan Hati Rusa dirumahnya. Katanya, “Ini nih makanan orang dewasa, kalau kamu mau dianggap sudah besar kamu harus bisa menikmatinya!”. Bagi anak muda yang berusaha mencari tempatnya di dunia ini, hal tersebut terdengar seperti undangan bergabung ke Club orang dewasa. Dan itu lah hal yang didambakan setiap anak muda yaitu diakui sudah dewasa. Maka gue menyicipi Jengkol ini dan ternyata rasanya tuh biasa aja, masih enakan makan Ayam. Gue juga ingat kagetnya Ibu gue pas lihat gue lagi makan Jengkol saat itu.

“Ahhhh, anak gue dibikin Sesat!”

Tapi yang lebih tidak akan gue lupakan adalah

Melihat rasa bahagia dan bangganya Alm. Opa melihat gue makan Jengkol

Maka sejak dari itu kalau ada Jengkol gue makan dengan lahap apalagi kalau ada Alm Opa. Dan hal ini terus berlanjut sampai saat ini. Jika dimasak dengan baik maka rasa Jengkol itu bisa luar biasa enak tapi hal ini juga berlaku untuk segala jenis komponen masakkan (kecuali Brokoli dan Bunga Pepaya! … Bleeh). Kenikmatan dari Jengkol itu bukan dari rasanya tetapi dari perhatian yang gue dapatkan pada saat memakannya. Si Julian yang tidak malu makan Jengkol, si Julian yang doyan makan Jengkol, si Julian yang cuman mau makan kalau ada Jengkol, dst. Jadi kalau ada Jengkol gue pasti tidak akan malu-malu untuk mencicipinya dan kalau enak pasti gue akan nambah.

Tapi lain soal kalau ngomongin Pete!!! Pete itu buah Surga dengan hembusan nafas neraka. Tetesan Hijau yang dapat memberikan kekuatan semburan Naga. Ada yang sangat unik dari tekstur Pete,

kalau kita menggigit Pete maka kekenyalannya terasa seolah-olah Petenya berusaha menggigit kita kembali dengan lembut

Dimasak dengan Nasi Goreng, dilalap pakai Sambal, dimakan sambil nonton di Bioskop, dipakai untuk gosok gigi sebelum tidur, ataupun untuk mainan Anak agar dia tidak nangis. Alangkah Indahnya Pete sebegai pelengkap suasana hangat rumah.

Mainan Jules

Mainan Jules

Nah, kenapa dua makanan ini sering mendapat cemooh dari orang-orang? Apa Dosa mereka? Apa!?

Sudah pasti baunya yang luar biasa. Gue inget habis makan Pete pergi ke Klient, dan kalau berbicara gue sengaja jaga jarak. Saat itu si Klient minta diguide mengenai suatu masalah, jadi gue pergi ke Komputernya dan tunjukkin pakai mouse tanpa buka mulut, setelah selesai gue mundur 7 langkah, dan baru bilang “Nah, begitu solusi jika menemukan masalah seperti itu”. Kejadian lain yang pernah terjadi yaitu setelah gue keluar dari Kamar Mandi kantor ada orang lain yang masuk, tiba-tiba ada suara “Ahhh!” dilanjutkan dengan suara pengharum yang disemprotkan selama 3 menit.

So, usahakan sesuka-sukanya kalian pada kedua makanan tadi cari cara agar orang-orang sekitar kalian tidak terganggu. Contoh yang gue lakukan, pergi ke lantai lain di kantor kalian dan buang air disana, atau pergi ke taman dan menggali lubang.

Sekian dulu, gue mau pergi cari Hati Rusa dulu.

Leave a Reply