Archive for » December, 2008 «

Menangislah di Pundakku

Sekali lagi g habisin waktu di Wartel gw seorang diri. BT bener. Gila, g benci ama cinta. Setiap hari g berdiri di depan wartel nengok ke kanan, nengok ke kiri. Ga brani ninggalin tempat, bahkan untuk ke kamar mandi. Siapa tahu dia lewat depan wartel dan g ga lihat dia hari ini. G butuh ngelihat dia minimal satu kali setiap hari! Jika tidak, g ga akan bisa tidur pada hari itu.

Dia datang Blushing. Aduuuh g senang bangeeet. Tapi dia ko ga nyapa g ya? Udahlah yang penting g bisa lihat dia hari ini. Pada saat mata g tertuju pada monitor Wartel, g lihat dia telepon mantan pacarnya. Dada g terbakar. Biarkanlah. Dia kan tahu g sayang ama dia, tapi kenapa dia telepon mantannya? Di Wartel g pula? Apa dia benar-benar ga bisa hargain g sama sekali?

more…

Permintaan sang ‘pecinta sepihak’

Siapakah yang kau pikirkan di saat kau termenung. Di saat semua orang bercanda, ada dua yang berbeda. Engkau yang memikirkan seseorang, dan aku yang tidak dapat memalingkan pandangan darimu. Aku tahu, bukan aku yang kau pikirkan.

more…

Saat Kukatakan padanya bahwa aku mencintainya

Akhirnya g ketemu dia pada hari ini. G ajak dia ke tempat yang sepi karena g ingin katakan seuatu padany, sesuatu yang mungkin akan mengubah hubungan kita selamanya. G hany punya dua pilihan, mengungkapkan atau hidup selamanya dengan dia tidak mengetahuinya.

Julian : Hi, Mar. Kabar lo gmn ? (Sambil nyengir)

Mar: Kabar baik Jul. Ada apa nih, pakai ajak-ajak tempat sepi segala, mau bayar hutang ya ?

Dia tersenyum, senyumnya indah banget. G selalu lumer kalau lihat dia senyum, dan kaki g terasa lemah. Inilah alasan g sayang banget ama dia. G telah bingkai senyumnya, dan g simpan di Lemari Besi dalam Hati g.

Julian : Mar. (Memasang wajah serius) G mau ngomong ama lo, tapi lo ga perlu jawab ya.

Sepertinya Mar sadar kalau g memang serius. Dan sesuatu di wajahnya mengatakan kalau dia tahu apa yang akan g katakan.

Julian : Mar, g mau kl lo tahu kalau selama ini g sayang sama lo. Bukan hanya sebagai sahabat atau adik, tapi .. tapi g cinta ama lo.

Mar terlihat heran. Entah apa yang ia pikirkan?

Mar : Ini salah satu permainan lo lagi kan Jul? Lo selalu bilang kalau lo cinta ke semua cewe. Lo selalu bilang sayang ke semua wanita. Kapan bisa seriusnya sih.

Julian : Iya g tahu, itu emang kebiasaan g. Tapi itu bukan berarti bahwa lelaki yang bodoh ini tidak bisa sadar dan benar-benar jatuh hati pada seorang perempuan kan? Gimanapun juga g hanya lelaki biasa, yang juga bisa jatuh cinta.

more…

Mama, Julian Cinta Cewe Non

Akhirnya selesai juga ulasan taboo g yg pertama. G posting berdekatan setelah hari raya idul adha, nyambung dengan temanya. Yaitu rasisme. Isinya ttg cara berpikir g terhadapnya. G dah lama bgt pengen membeberkan pikiran g ini, hanya saja g takut menyinggung hal yg taboo. Semoga kalian suka.

Teman g punya dilemma, dia bilang ama g, dia udah ga suka ama cewe indonesia tapi hanya suka ama cewe oriental. Mungkin krn lama kerja d kantor dgn mayoritas cewe begitu? Dia bilang dia suka mereka karena mereka putih2! Temen g ini Islam dan orang indonesia asli. Sewaktu orang indo bilang dia demen ama cewe oriental, hal pertama yang g pikirkan adalah, ‘emangnya agama mereka sama?’.
Agama, Cinta. Pernahkah lo jatuh cinta dengan seseorang yang agamanya berbeda?

more…